Perencanaan Wilayah dan Kota Itera

it’s all here!
Powered by Blogger.
Thursday, 5 June 2014



Kantong plastik menjadi isu pembicaraan penting akhir-akhir ini di dunia pengelolaan sampah. Harganya yang murah, gampang ditemukan, dan mudah digunakan membuat kantong plastik telah menjadi bagian dari hidup manusia. Hampir semua kemasan makanan dan pembungkus barang dan makanan menggunakan plastik dan kantong plastik. Belum lagi plastik untuk kebutuhan lain seperti peralatan dan perabotan rumah tangga, mainan anak-anak, alat olahraga, peralatan elektronik maupun medis, dan sebagainya. Namun, keberadaan sampah plastik telah menjadi momok yang menakutkan. Sampah jenis ini memerlukan ratusan, bahkan ribuan tahun untuk terurai kembali ke bumi.

Plastik baru secara luas dikembangkan dan digunakan sejak abad ke-20. Namun  penggunaannya berkembang secara luar biasa dari hanya beberapa ratus ton pada tahun 1930-an, menjadi 150 juta ton/tahun pada tahun 1990-an dan 220 juta ton/tahun pada tahun 2005. Plastik menjadi primadona karena beberapa sifatnya yang istimewa yakni, mudah dibentuk sesuai dengan kebutuhan; bobotnya ringan sehingga bisa menghemat biaya transportasi; tahan lama; aman dari kontaminasi kimia, air dan dampaknya; aman sebagai kemasan barang maupun makanan; dan tahan terhadap cuaca dan suhu yang berubah; dan yang lebih penting lagi adalah harganya murah.

Fenomena booming sampah plastik telah menjadi momok yang menakutkan di setiap belahan bumi. Tidak saja di negara-negara berkembang tetapi juga di negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, dan Jepang. Saat ini penggunaan material plastik di negara-negara Eropa Barat mencapai 60kg/orang/tahun, di Amerika Serikat mencapai 80kg/orang/tahun, sementara di India hanya 2kg/orang/tahun.

Akibat sampah plastik yang memerlukan ratusan bahkan ribuan tahun untuk terurai kembali ke bumi, 57 persen sampah yang ditemukan di pantai berupa sampah plastik. Sebanyak 46 ribu sampah plastik mengapung di setiap mil persegi samudera bahkan kedalaman sampah plastik di samudera pasifik sudah mencapai hampir 100 meter. 

Di Indonesia, menurut data statistik persampahan domestik Indonesia, jenis sampah plastik menduduki peringkat kedua sebesar 5.4 juta ton per tahun atau 14 persen dari total produksi sampah. Penggunaan bungkus berbahan baku plastik terus meningkat, saat ini rata-rata orang Indonesia menghasilkan sampah 0,5 kg dan 14% di antaranya plastik. Dengan demikian, plastik telah mampu menggeser sampah jenis kertas yang tadinya di peringkat kedua menjadi peringkat ketiga dengan jumlah 3.6 juta ton per tahun atau 9 persen dari jumlah total produksi sampah.

Langkah positif untuk pengurangan sampah dapat melalui kampanye 3R yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang). Meskipun secara substansial, hasil yang didapat belum sebanding dengan pertumbuhan penggunaan plastik yang terus meningkat dari hari ke hari. Setidaknya kita berusaha mengurangi jumlah permintaan plastik dengan kebiasaan baru menggunakan tote bag sebagai pegganti plastik misalnya, atau alternatif lainnya yaitu dengan menggunakan plastik yang ramah lingkungan atau juga menemukan formula yang tepat untuk mempercepat proses penguraian plastik agar bisa kembali ke alam. Kalau kita tidak mulai berupaya, maka tinggal menunggu waktu saja bumi ini akan menjadi planet plastik!

Desain Tote Bag HMP Mandalanata Itera

Contoh Hasil Produksi Tote Bag HMP Mandalanata Itera

Mandalanata

membangun bersama dengan komprehensif, bersinergi, dan terus berkelanjutan menjadi suatu harmoni, HMP Mandalanata "consilio in harmonia"

"Consilio in Harmonia"

Learn More